Webinar dan Talkshow Pharmacious 2020


Pharmacious merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian acara Pharmanesia Fakultas Farmasi UGM yang meliputi tiga rangkaian acara, yaitu Pharmacious, Dies Natalis, dan Farmasi Cup. Pharmacious pada tahun ini mengadakan 3 acara, yaitu webinar, talkshow, dan lomba yang terdiri dari lomba essay, poster, KIE, dan video. Acara webinar dan talkshow mengambil tema “Strategi Manajemen Pandemi Dalam Perspektif Farmasi” yang dilaksanakan pada tanggal 14-15 November 2020 pukul 13.00-16.00 WIB. Pada acara webinar, terdapat keynote speaker, dua pembicara, dan satu moderator, sedangkan pada acara talkshow terdapat tiga narasumber dan satu moderator.
Untuk acara hari pertama, yaitu webinar, sebagai keynote speaker adalah Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI, apt. Dra. Engko Sosialine Magdalene, M. Biomed. Sementara itu, yang menjadi pembicara dalam acara tersebut adalah apt. Hadi Kardoko, S. Si., M. M. selaku Dirjen PT. Phapros dan apt. Drs. Nurul Falah Eddy Pariang selaku Ketua Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), dengan moderator Dr. apt. Susi Ari Kristina, M. Kes. yang merupakan dosen di Fakultas Farmasi UGM.
Selanjutnya, untuk acara talkshow, tiga narasumber yang akan menyampaikan materi adalah apt. Asri Riswiyanti. S. F., M. Sc. selaku Kepala Instalasi Farmasi RSUP Dr. Sardjito, Prof. apt. Dra. Retnosari Andrajati, M. S. selaku Kepala Instalasi Farmasi RS UI, dan Dr. apt. Budi Suprapti, M. Si. selaku Manajer Farmasi RS UNAIR dengan moderator apt. Ika Puspitasari, M. Si, Ph.D yang merupakan dosen di Fakultas Farmasi UGM.

A. Webinar
Rangkaian Pharmacious 2020 pada minggu ini diawali dengan acara webinar dengan tema “Strategi Kesiapsiagaan dan Ketanggapdaruratan Kefarmasian Menghadapi Pandemi”. Webinar ini telah diselenggarakan pada hari Sabtu, 14 November 2020 pukul 13.00 hingga 16.00 WIB. Acara ini dibawakan oleh MC Maria Scolastika Lourdesia A., seorang mahasiswi Farmasi UGM angkatan 2016, serta dimoderatori oleh Dr. apt. Susi Ari Kristina, M.Kes. yang merupakan salah satu dosen di Fakultas Farmasi UGM. Acara dibuka dengan doa sekaligus beberapa sambutan. Sambutan-sambutan ini diawali dengan sambutan oleh GP Wahyunanda Crista Yuda selaku ketua panitia Pharmacious 2020, Oki Irawan selaku ketua BEM KM Farmasi UGM 2020, serta apt. Prof. Dr.rer.nat. Triana Hertiani, M.Si. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan.
Pada acara webinar sesi pertama, pembukaan dilakukan oleh keynote speaker, apt. Dra. Engko Sosialine Magdalene, M. Biomed, dengan memberikan sedikit gambaran mengenai “Strategi Kesiapsiagaan dan Ketanggapdaruratan Kefarmasian Menghadapi Pandemi”. Dalam webinar ini bu Engko memaparkan tentang panduan WHO dalam kesiapsiagaan dan respon terhadap pandemi Covid-19, diantaranya dengan melakukan koordinasi di tingkat nasional, melakukan perencanaan dan monitoring. Selain itu, beliau juga menjelaskan tentang peran farmasis yang dapat dijalankan terkait pandemi ini yang harus kita hadapi, yaitu memenuhi kebutuhan obat, meningkatkan aksesibilitas sediaan farmasi dan alat kesehatan yang dibutuhkan, serta mendorong pemanfaatan teknologi informasi dalam penyelenggaraan pelayanan kefarmasian. Beliau juga menyampaikan bahwa manajemen tata kelola obat dapat memengaruhi penyediaan obat. Selain itu, kita juga perlu melakukan koordinasi lintas pekerjaan untuk mempermudah lalu lintas logistik obat dalam penanganan pandemi.
Selanjutnya, bu Engko memaparkan banyak upaya untuk meningkatkan sistem imun kita di tengah-tengah pandemi, salah satunya yaitu penggunaan obat tradisional pada situasi pandemi dengan adaptasi kebiasaan baru untuk tetap hidup produktif dan terhindar dari penularan Covid-19. Berbagai regulasi telah ditentukan untuk penyediaan obat tradisional di fasilitas pelayanan kesehatan, yang mana salah satunya dapat membuka peluang untuk melakukan ekspor produk bahan-bahan terkait dan juga akselerasi pelayanan publik. Selain itu, kita juga perlu melaksanakan pengawasan alat kesehatan dengan melakukan balancing antara pre-market dan post-market agar terjamin aman dan bermanfaat.
Di era sekarang, secara potensial kita dapat mengembangkan telefarmasi, yaitu pengaturan e-farmasi dalam pelayanan kefarmasian, sehingga peran apoteker diharapkan semakin dikuatkan dengan pemanfaatan teknologi informasi atau digitalisasi di era new normal.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembawaan materi oleh Dirjen PT. Phapros, apt. Hadi Kardoko, S. Si., M. M., yang mengambil topik mengenai “Optimasi Peran Industri Farmasi dan Lembaga Penelitian dalam Percepatan Pengembangan Obat di Masa Pandemi”. Dalam pemaparan topik tersebut, dijelaskan bahwa perlu adanya sinergi dalam berbagai bidang untuk penanganan Covid-19 di Indonesia. Pandemi Covid-19 di Indonesia kini cenderung terus menunjukkan peningkatan kasus. Hal ini menyebabkan tekanan ekonomi negara, walaupun tidak terjadi resesi parah, seperti pada peristiwa krisis ekonomi di tahun 1998. Pada triwulan pertama, kondisi ekonomi Indonesia masih tergolong cukup baik karena berada pada range 3,0%, tetapi pada kuarter kedua dan ketiga terjadi penurunan yang cukup drastis sehingga posisinya berada di bawah nol. Tentunya pengaruh ini akan menjadi tantangan dalam bidang ekonomi, seperti kebangkrutan bisnis, maraknya PHK, penurunan daya beli masyarakat, serta penurunan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, hal ini juga berdampak pada sektor kesehatan, yang mana terjadi penurunan kualitas kesehatan masyarakat maupun tenaga kesehatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan intervensi dari berbagai pihak.
Dari segi farmasi, peran yang dimiliki cukup penting dalam menjadi public health educator, clinical pharmacy, juga industri farmasi terkait penjaminan ketersediaan produk, penggunaan obat yang rasional, serta edukasi masyarakat. Kemudian, untuk mempertahankan ekonomi masyarakat diluncurkan berbagai program oleh pemerintah, antara lain Jaring Pengaman Kesehatan, Jaring Pengaman Sosial, Jaring Pengaman Sektor Riil, dan Jaring Pengaman Keuangan. Jika dilihat dari sektor farmasi, peran industri farmasi dan lembaga penelitian sangat vital dalam pemenuhan kebutuhan obat dan alat kesehatan, riset vaksin, serta kemandirian farmasi terutama terkait bahan baku produksi obat ataupun alkes (alat kesehatan), misalnya dari bahan-bahan alam. Dalam pemenuhan kebutuhan pengadaan alkes dan obat, tentunya terjadi perubahan acuan dalam produksi obat dan alkes sesuai dengan produk-produk yang terkait dengan Covid-19. Di sisi lain, dalam pengembangan obat dan vaksin diperlukan waktu yang cukup lama dan proses yang cukup rumit sehingga perlu dilakukan upaya percepatan dalam penemuan maupun produksinya. Untuk itu, dalam membantu mengurangi penularannya perlu dilakukan upaya preventif dan promotif dari berbagai sektor, terutama sektor kesehatan.
Setelah sesi pertama selesai, lalu dilanjutkan dengan sesi kedua dengan pembicara apt. Drs. Nurul Falah Eddy Pariang, yang merupakan Ketua Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Pada sesi ini topik yang dibicarakan adalah “Praktik Regulasi dan Distribusi Perbekalan Farmasi dan Alat Kesehatan Selama Pandemi”. Pemaparan materi dimulai dari regulasi praktik kefarmasian. Regulasi ini diatur dalam pasal 108 UU Kesehatan No. 36/2009, yang mana di dalamnya dinyatakan bahwa pemberian obat, penyimpanan obat, pengadaan obat, distribusi obat, pengembangan obat, dan pelayanan obat hanya boleh dilakukan oleh apoteker. Hal ini menunjukkan bahwa apoteker memiliki peranan yang penting dalam penanganan pandemi. Tentunya dalam melaksanakan tugas, apoteker perlu menjaga profesionalisme dan kompetensinya, karena hanya apoteker yang profesional saja yang akan mampu meningkatkan kualitas hidup sehat bagi setiap manusia karena dapat mengerjakan tugasnya dengan baik dan memiliki etos kerja yang tinggi. Untuk menjaga profesionalitas, perlu dilakukan upaya untuk menjadikan instalasi farmasi agar dapat mengambil hati masyarakat dalam pelayanannya sehingga tercipta kepercayaan dan kehormatan terhadap profesi apoteker.
Selain untuk memperoleh kepercayaan masyarakat, sifat profesionalisme dilakukan agar tidak terjadi kesalahan ataupun pelanggaran peraturan. Untuk itu, dalam distribusi obat, baik dari produsen, maupun saat diberikan pada konsumen perlu dilaksanakan berbagai protokol kesehatan untuk memutus rantai penularan virus di berbagai lokasi, terutama di instalasi kesehatan. Oleh sebab itu, telah dilakukan inovasi baru melalui penerapan media digital, seperti penggunaan aplikasi apotek online, aplikasi edukasi obat, dan media sosial. Selain dari segi penyerahan obat, metode pembayaran juga perlu dilakukan perubahan menjadi cashless untuk meminimalisasi kontak dengan orang lain. Dalam penerapan digitalisasi tersebut, dalam prosesnya perlu dilakukan pengawasan agar tidak terdapat distribusi obat ilegal, pemalsuan obat, penyelundupan narkoba, penimbunan masker, penimbunan alat kesehatan, serta kejahatan-kejahatan lainnya. Selain pengawasan, regulasi juga perlu ditegakkan melalui diterbitkannya izin edar obat dan alkes, yang mana adanya izin edar ini memicu munculnya berbagai industri farmasi baru. Berdasarkan pemaparan sebelumnya, peran apoteker terkesan menjurus kepada obat saja, tetapi ternyata apoteker juga dapat berperan menjadi sukarelawan untuk membantu tenaga kesehatan lainnya dalam hal perawatan pasien.

B. Talkshow
Rangkaian Pharmacious 2020 ditutup dengan webinar dalam bentuk talkshow dengan tema “Langkah-Langkah Strategis Pelayanan Kefarmasian yang Efektif Dalam Mendukung Pencegahan dan Penanggulangan Pandemi”. Talkshow tersebut telah diselenggarakan pada hari Minggu, 15 November 2020 pukul 13.00 hingga 16.00 WIB. Talkshow ini dibawakan oleh MC Angela Judhi Arkandhi, Mahasiswa Berprestasi Fakultas Farmasi UGM 2019 dan dimoderatori oleh apt. Ika Puspitasari, M.Si., Ph.D. yang akrab disapa Bu Ika, salah satu dosen Fakultas Farmasi UGM. Acara dibuka dengan doa sekaligus sambutan dari apt. Prof. Dr.rer.nat. Triana Hertiani, M.Si. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan. Beliau menyampaikan apresiasi kepada seluruh kepanitiaan Pharmacious 2020 yang sudah berinovasi dalam menyusun acara dan telah melatih soft skill sebagai mahasiswa walaupun terdapat halangan pandemi Covid-19. Beliau berkata, soft skill tersebut dapat menjadi bekal ketika menempuh pendidikan profesi apoteker nantinya.
Pada sesi pertama, talkshow dibuka oleh Kepala Instalasi Farmasi RSUP Dr. Sardjito, apt. Asri Riswiyanti. S.F., M.Sc. Beliau menempuh pendidikan sarjana (S1), profesi apoteker, hingga magister (S2) di Fakultas Farmasi UGM. Bu Asri memanfaatkan waktu untuk bercerita mengenai keadaan rumah sakit yang penuh dengan kepanikan pada bulan Maret lalu, yaitu saat masa pandemi dimulai. Standar terapi Covid-19 yang belum jelas, informasi mengenai penyakit yang masih simpang siur, serta para tenaga kesehatan yang menderita stres karena takut tertular merupakan alasan terciptanya kepanikan di rumah sakit itu. Meski begitu, seiring berjalannya waktu, satu persatu masalah dapat dipecahkan solusinya. Untuk mengurangi risiko penularan Covid-19 pada tenaga kesehatan, rumah sakit telah menerapkan protokol berupa pemberian suplemen dan vitamin, penyediaan APD yang adekuat, pembatasan pengunjung rumah sakit, dan pemantauan proses cuci tangan agar dilakukan dengan cara dan waktu yang tepat. Terdapat beberapa dampak pandemi Covid-19 terhadap pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Dr. Sardjito, yaitu turunnya jumlah pasien dengan angka yang signifikan sehingga harus dilakukan pengendalian obat, risiko penularan Covid-19 yang sangat tinggi, terjadinya kelangkaan hand sanitizer di pasaran padahal sangat dibutuhkan di lingkungan rumah sakit, dan harus dilakukan penyesuaian pemberian obat pada pasien rawat jalan.
Selain itu, beliau juga bercerita mengenai salah satu peran farmasi di rumah sakit, yaitu sebagai tim donasi. Donasi di sini dikaitkan dengan manajemen logistik, yang mana salah satunya terjadi pergeseran rencana setelah pandemi tiba, misalnya penyediaan APD dan hand sanitizer. Namun permasalahannya adalah di awal masa pandemi, ketersediaan APD sangat terbatas, tidak ada panduan terkait obat yang dibutuhkan untuk Covid-19, harga yang fluktuatif, serta administrasi pembelian yang cukup rumit. Beliau juga menyebutkan bahwa syarat donasi di masa pandemi ini diterima yaitu sumbernya jelas. Jika donasi berupa obat-obatan, maka syaratnya adalah termasuk dalam Daftar Obat Esensial Nasional, terdapat spesifikasi dosis, serta terdapat ED (expired date). Namun permasalahan yang sering dialami adalah terjadi ketidaksesuaian antara donasi dengan kebutuhan, baik dari spesifikasi, jenis maupun jumlah, sehingga jika berlebih berakibat pada kesulitan dalam hal penyimpanannya.
Setelah itu, dilanjutkan dengan talkshow sesi kedua oleh Kepala Instalasi Farmasi RS UI, Prof. Apt. Dra. Retnosari Andrajati, M.S. Beliau memulai penyampaian materinya dengan memaparkan kondisi terkini terkait pandemi Covid-19. Pertama, disebutkan bahwa terdapat tim pakar gugus tugas Covid-19 di RS UI, yang mana ternyata apoteker kurang berperan dalam hal tersebut. Setelah itu, beliau memaparkan perkembangan terbaru terkait kasus Covid-19 di Indonesia yang mana jumlah kasus terkonfirmasi di Indonesia mencapai 463.007 kasus, yang mana DKI Jakarta memegang angka pasien kumulatif tertinggi, yaitu 108.116 orang. Intinya, beliau memaparkan hasil perkembangan kasus Covid-19 yang diambilnya dari laman covid19.go.id.
Kemudian, beliau memaparkan bahwa kebijakan pemerintah dalam menghadapi pandemi di bidang farmasi ini terutamanya berkaitan dengan ketersediaan obat, yaitu meningkatkan suplai obat dan pemerataan distribusi obat. Selain itu, pemerintah juga menyediakan bantuan dana untuk ketersediaan obat, APD, dan BMHP terkait pelayanan Covid-19, serta juga menyediakan bantuan berupa data penelitian terkait Covid-19. Selain itu, sejauh ini pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan, beberapa di antaranya yaitu dengan menerapkan 3M (Masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak) dan juga menerapkan PSBB. Tentunya semua hal tersebut harus dipertanggungjawabkan.
Setelah itu, bu Retno juga menyampaikan beberapa hal terkait peran farmasis dalam peningkatan pelayanan farmasi di masa pandemi, yang mana kebanyakan farmasis akan terlibat langsung dalam beberapa hal berikut: memastikan ketersediaan APD, BMHP, obat dan vitamin yang berkualitas, melakukan edukasi kepada masyarakat, memastikan pelayanan pasien IGD, rawat jalan, rawat inap, rawat intensif, memberikan pendidikan dan pemberian informasi berkelanjutan untuk tenaga kesehatan lain dan juga masyarakat, serta melakukan penelitian terkait obat-obatan. Beliau juga menghimbau bahwa kita semua harus sadar bahwa farmasis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan secara langsung.
Tetapi sangat disayangkan bahwa secara keseluruhan, pemerintah dan masyarakat belum melihat potensi farmasis. Maka dari itu beliau juga mengimbau agar farmasis (termasuk juga mahasiswa-mahasiswi farmasi) dapat lebih aktif untuk mempromosikan perannya sebagai bagian dari tenaga kesehatan dalam semua aspek, yaitu dalam hal pencarian dan penelitian obat dan vaksin, penyediaan APD dan BMHP untuk Covid-19, produksi dan distribusi ketersediaan obat, vaksin, dan suplemen, pelayanan farmasi di berbagai layanan kesehatan, serta promosi kesehatan dan pencegahan ke masyarakat.
Narasumber terakhir bernama Dr. Apt. Budi Suprapti, M.Si., yaitu seorang Manajer Farmasi Rumah Sakit Universitas Airlangga, Surabaya. Narasumber yang biasa disapa Bu Budi ini mengawali pemaparannya dengan sebuah pesan bahwa pandemi Covid-19 tidak hanya membawa bencana, namun juga membawa hikmah berupa pembelajaran yang sangat bermanfaat untuk masa depan, terutama dalam bidang pendidikan. Kita menjadi paham bahwa virus penyebab Covid-19 dapat berefek jika menempel pada reseptor Angiotensin II yang tersebar di dalam tubuh kita. Kita juga diingatkan bahwa daya tahan tubuh kita merupakan hal penting yang harus kita jaga supaya dapat mengurangi risiko penularan penyakit Covid-19.
Bu Budi juga bercerita mengenai situasi rumah sakit terutama instalasi kefarmasian yang penuh dengan tanda tanya ketika baru menghadapi situasi pandemi. Beberapa masalahnya terdiri atas ketidakjelasan patofisiologi Covid-19 yang berakibat pada tidak tersedianya obat spesifik maupun pencegahannya, terjadi kelangkaan APD, terdapat donasi APD berlimpah tapi tidak sesuai standar, serta timbulnya berbagai masalah dalam bidang manajemen farmasi. Demi terciptanya solusi-solusi yang memadai, Bu Budi menegaskan bahwa diperlukan adanya komunikasi yang baik secara kontinu antar tenaga kesehatan. Selain itu, beliau juga berkata bahwa edukasi mengenai segala hal terkait penyakit Covid-19 kepada staf rumah sakit sangatlah diperlukan supaya tidak termakan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Talkshow Pharmacious 2020 ditutup dengan sesi tanya jawab yang mana salah satu pertanyaannya diajukan oleh Putu Ayu, seorang mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Udayana. Putu bertanya mengenai apa saja yang berpengaruh terhadap penanganan pasien Covid-19 di Indonesia yang masih belum maksimal daripada di negara lain. Menanggapi pertanyaan tersebut, narasumber ketiga, Dr. Apt. Budi Suprapti, M.Si., sedikit mengoreksi bahwa sebenarnya standar terapi pasien Covid-19 di Indonesia sudah setara dengan standar yang diterapkan secara global. Namun, beliau menjelaskan bahwa pemahaman mengenai penyakit Covid-19 oleh masyarakat Indonesia-lah yang masih kurang. Penularan Covid-19 sangatlah bergantung pada kekebalan tubuh seseorang dan bagaimana sikap seseorang menanggapi adanya infeksi sehingga setiap orang haruslah waspada terhadap tubuhnya masing-masing. Untuk itu, seluruh mahasiswa terutama dari jurusan farmasi sebaiknya juga ikut ambil bagian dalam meningkatkan pemahaman sekaligus kewaspadaan masyarakat Indonesia terhadap penyakit Covid-19 agar pasien positif semakin berkurang dan negara Indonesia bisa pulih dari pandemi.

Red: Rahma Inaya Shaleha, Regina Gita Primadani, Salsabiela Milenia Putri

Leave a comment

Your email address will not be published.